Saturday, April 1, 2017

My handsome lil' fireman

Jadi ceritanya hari Kamis yang lalu di kelasnya Farabi ada sesi foto angkatan (*jiaahh anak TK A ajah pake foto angkatan segalak yakk) berhubung udah mau selesai tahun ajaran, eh sebenarnya sih masih beberapa bulan lagi yaa tapi karena bulan depan kan udah masuk bulan puasa nah biasanya di sekolah tuh ada kegiatan amaliyah Ramadhan jadi mungkin kegiatan lain pengennya dislesein sebelum bulan puasa. 

Nahh kebetulan kelasnya Farabi kebagian tema "profesi" untuk dresscode fotonya, pas banget deh karena belakangan ini tuh anak lagi ribut terus pengen jadi fireman, kebetulan juga udah punya segala peralatan dan topi fireman, tinggal Ayah order bajunya aja deh.

Lucunya anak-anak tuh yaa, kadang gemes kadang jadi geli sendiri. Seperti kemarin pagi wkt Farabi cerita kalo dia suka main playdoh sama Bunda mau bikin masakan/makanan dari playdoh. Terus kk Dinara bilang " Dek, kalo suka main masak-masak harusnya adek tuh jadi koki bukan jadi fireman". Nahh dibilangin gitu sama kakaknya si adek langsung nangis gak karuan, "Kan Abi maunya jadi fireman, kenapa kk bilang Abi harus jadi koki" *sambil nangis sesenggukan* (-___-)!



Pose dulu sebelum berangkat ke sekolah

Sunday, March 19, 2017

Our Fave Spot at Lampung : Grand Elty Krakatoa Resort's Beach

Grand Elty Krakatoa Resort has become one of out fave spot to spent while travelling in Lampung, located between Bakauheni Port and Bandar Lampung City, it can access reachable for about 4 km from Trans Sumatera Highway. It's detail location at Trans Sumatera Highway KM 45 Merak Belantung, Kalianda South Lampung District. The resort has calm beachy, white sand, exotic scenery with Mount Rajabasa as background, and many water sport activity such as canoe, banana boat, snorkeling, or just havin relax at the beach's cafe. Actually it's located quite away from the capital city of Bandar Lampung, it's about 1 hour drive from the city. 

To be honest we didn't stay at the resort yet, since review from the travellers we read form Tripadvisor not so good. So we choose to stay at the capital city Bandar Lampung, for more reasons that we could explore the culinary better than stay at the resort. Last week is our fourth visit here, we came here before lunch time about 11 am and brought some meals for lunch, then we spent the day until 8 pm before went back to Jakarta. Ticket price for one day entering the resort's beach if we didn't stay at the resort for adults and children more than 5 yo was 50K IDR, but the 20K IDR used as a voucher for any F&B at the resort's bar and restaurant, well I said it's worth for value. For the first time we rent the canoe here, the price was 20K IDR for 30 minutes, kiddos was very excited and they're also enjoying swimming at the other side of the beach which was more calm than other side of the beach that more close to the Mount Rajabasa in the background. Actually the beach quite flat that kids can swimming safely. We love to had some activity here because it's not too crowded, the beach clean enough, and the resort offers some beach activities. 

Fortunately our visit last week, the moon shine beautifully, we spent the night at the Rodeoz Beach Cafe enjoying a cup of hot chocolate, coffe and french fries, for those we just spent about 25K IDR plus 2 voucher each value 20K IDR from the entry tickets, it was very nice experience. Well we'll back here for our next visit to Lampung for sure, we love this place and would recommend our relatives and friends to come here (but not to stay since we had no experience yet).


My fave picturesque spot

Her first time canoeing experience

Happy mommy, happy kids :D

The moon shine beautifully as our family pic background

It's hard enough to get just both of us picture 







Friday, March 10, 2017

Late Archieves : Farabi at School

His very first day at school 

Masih happy awalnya, sebelum nangis bombay setelah ditinggal Bunda

Sudah mulai menikmati masa-masa menjadi anak kelas TK A

Acara Puncak Tema di sekolah untuk pengenalan budaya daerah

Throwback Memories : Bandar Lampung City

Thanks to hubby for bringing us back to Bandar Lampung City through his bussiness trip this weekend. Sebenarnya sih yang paling happy tentunya Bunda, yang berasa kurang piknik selama beberapa bulan terakhir. Sejak pindah rumah akhir tahun lalu kami nyaris tidak pernah bepergian jauh, karena menikmati banget stay di rumah tiap weekend. Tapi kok lama-lama rasanya kangen travelling, kangen aroma laut. Kalo anak-anak sih kayaknya mah gak ada pikiran yaa mereka happy terus mau dimana aja kapan aja.

Nah, kebetulan si Ayah kasih kabar kalo dia berencana dinas ke Bandar Lampung minggu ini, waah kebetulan nih bisa dong ini anak istrinya diangkut sekalian hahahha. Untungnya kebijakan di kantor memungkinkan untuk bepergian dengan membawa kendaraan, jadi kan lumayan banget tuh iritnya secara yang ditanggung kantor kan hanya akomodasi Ayah doang. Fix hari Kamis Jumat Bunda minta ijin ke gurunya anak-anak, walaupun sebenarnya hari Kamis kakak Dinara masih ada 1 mata pelajaran UTS tapi gurunya bilang gapapa masih bisa ikut UTS susulan, wahh oke banget dehh langsung cuzz packing, hari Rabu malam kami berangkat naik mobil jalan jam 22.00 dari daerah Bintaro, nyampe Bandar Lampung 03.15 dini hari.

Sempet muter-muter keliling kota, kok kayaknya perubahan kota ini ga terlalu signifikan yaa sejak pertama kali kami sempat tinggal di kota ini nyaris 15 tahun yang lalu. Beberapa ruas jalan, lebarnya masih sama, kondisi ruko-ruko pun ga banyak berubah, hanya bertambah 1 buah mall besar, namun terdapat pertumbuhan hotel yang cukup dominan dibeberapa ruas jalan utama. Menurut salah satu artikel yang dimuat di majalah Pesona Lampung edisi Oktober 2016, Bandar Lampung ini merupakan kota terbesar dan terpadat ketiga di Sumatera setelah Medan dan Palembang, dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa, jadi kan seharusnya kota ini sudah masuk kategori kota metro, namun yang kami cermati kenapa sistem transportasi masih kurang memadai yaa? Kami pikir tadinya transportasi online sudah masuk kesini, karena biar bagaimanapun model transportasi seperti itu kan membantu banget kita sebagai konsumen, karena memudahkan mobilisasi juga biaya yang sangat terjangkau. Nah ternyata tansportasi online sama sekali belum ada, bahkan penyedia taksi macam Blue Bird pun belum ada di Bandar Lampung, yang ada palingan hanya taksi lokal yang Wak Ujuk (kakak Bunda) bilang rata-rata tanpa argo resmi, dan perjalanan dipatok harga borongan untuk sekali perjalanan. Yaa kalo angkot sih banyak, cuma kan kan kalo kemana-mana naek angkot juga kurang efektif, selain karena memakan waktu juga aksesililitas kurang memadai untuk menjangkau tempat-tempat tujuan (utamanya tempat wisata).

Jujur sebenarnya Bandar Lampung ini topografinya asik banget, mulai dari dataran pantai yang indah,  kawasan perbukitan hingga pegunungan. Highlightnya tentu saja Teluk Lampung yang indah dengan lautnya yang tenang. Gak berlebihan kalo Bunda bilang kalo kota ini salah satu favorit kami, apalagi bagi pecinta pantai macam Bunda. Tapi sayangnya trip kali ini kami ga bisa eksplor banyak lokasi wisata karena yaa namanya juga nebeng yang lagi kerja jadi harus ngikuti jadwal meetingnya si Ayah. Makanya begitu browsing hotel di Online Travel Agent (OTA), kami kami cari hotel dengan fasilitas kolam renang, yaa paling tidak kan kalo kami gak sempet jalan-jalan, anak-anak jadi gak bosen di kamar hotel aja. Nah pilihan hotel kami kali ini jatuh pada Whiz Prime hotel, selain karena lokasinya di pusat kota, hotel ini punya kolam renang indoor, yang walaupun kolam untuk anaknya hanya berupa kolam renang anak model karet yang ditiup gitu, yaah lumayanlah bikin anak-anak hepi. Kamar hotelnya juga menyenangkan walaupun gak terlalu luas tapi cukup nyaman untuk sekeluarga. Terus asiknya menginap disini, mereka punya restoran yang dipake untuk sarapan di top floor hotel dengan pemandangan Teluk Lampung serta dikelilingi perbukitan hijau. Gak kalah jauh dengan Novotel Lampung jadinya.

Fokus perjalanan kami kali ini seputar kuliner, kangen banget deh sama makanan yang sering kami makan dulu sewaktu masih kuliah di Bandar Lampung. Aneka pempek, model, tekwan, martabak, tentu masuk dalam bucket list Bunda sejak sebelum berangkat, selain tentu saja Bakso Sony, nasi padang Begadang, pecel lele Bu Gendut, Mie Khodon Teluk, Mie Ayam Lampung, mungkin hanya sebagian saja dari daftar favorit kami yang Alhamdulillah kesampean selain oleh-oleh pie pisang Yussy Akmal *elus elus perut kekeyangan*.

Anyway,, thanks yaa hubby untuk piknik singkatnya lumayanlah menyelamatkan Bunda dari bahaya kurang  piknik.... hahahah.

Mountains view of B. Lampung city in the morning

Ocean view of B. Lampung city in the morning

Wednesday, March 1, 2017

Kelakuan Farabi

Beberapa hari yang lalu ada cerita lucu tentang kelakuan duo Dinara Farabi. Jadi ceritanya selepas maghrib, mereka main di kamar berdua sambil tutup pintu kamar. Si adek bolak balik nanyain sisir dan karet rambut ke Bunda. Ternyata dia disuruh kakak main salon-salonan, yaa si adek kan tipe anaknya penurut jd mau-mau aja tuh diajak main sama kakak. Terus kan Farabi nanyain lagi " Bun, mana sih botol yang gambar bayi-bayi itu loh", karena ditanyain pas sambil masak Bunda ga ngeh maksudnya apa, oohh ternyata dia nanyain hair lotion Zwitsal. Mungkin karena nyari-nyari ga nemu, dia inget ada botol yang sama di kamar mandi. Diambillah botol shampoo yang dikira botol hair lotion.....hahahha. Terus kan Farabi langsung masuk kamar tuh balik main sama kakak. Ga berapa lama kakak Dinara ngomong sambil setengah teriak " Adeekk, ini kan shampoo bukan hair lotion lohh", pas Bunda liat begitu mereka keluar kamar di rambut Dinara dan Farabi penuh busa, padahal mereka berdua udah pada mandi keramas sejak sore, hadeuhhh......

Terpaksa deh tuh anak berdua disuruh mandi keramas lagi malam-malam (-___-)'

Sunday, February 5, 2017

Pempek Adaan Ala-ala


Setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta akhirnya kesampean juga bikin pempek sendiri, sebenernya sih pas pulang ke Palembang juga sering bikin walaupun dengan supervisi Nyai ataupun Wak Ibu. Nah kali ini beneran deh bikin sendiri ngandelin resep googling cookpad Nova Rilandari (ehh Nova ini temen sekelas waktu SMU yang ternyata jago banget cooking and baking, thank you resepnya yaah Nov).

Jadi ceritanya hari Sabtu kemarin setelah anter kk les matematika, si suami ngotot mau nganterin ke Pasmod Bintaro sektor 7, padahal tadinya saya cuma kepengen belanja di tukang sayur kompleks ajah karena malesnya ke Pasmod pas wiken tuh susaahh dapet parkir. Ehh pas muter-muter liat ada yang jual ikan tenggiri giling, dan ternyata ada ikan gabus juga. Pas nanya harganya sekilo ikan gabus hanya Rp 60.000,- (ikan tenggiri sekilo Rp 75.000,-) yaah walaupun setelah difillet dan digiling sih beratnya hanya sekitar 700 gram, beda kayak di Palembang yang menghitung berat ikan setelah digiling. Hari itu juga kalap belanja deh, beli segala ikan kuwe (rencananya mau dibakar kecap), cumi-cumi (akhirnya dimasak saos tiram), dan iga sapi (tentunya dibikin sop iga), dan segala sayur mayur. Ehh beneran lohh ke Pasmod ini racun banget belanjanya, karena selain tempatnya bersih dan teratur, display juga menarik dan produknya seger-seger yang tadinya ga pengen belanja ehh malah belanja ini itu duuhh!

Nyampe rumah setelah beberes belanjaan, langsung googling resep pempek adaan karena pengennya langsung bisa dimakan males bikin lenjeran karena harus direbus dulu. Nah untuk resep, saya hanya pake setengah bagian ikan giling yang tadi dibeli karena baru percobaan, sisanya masuk freezer dulu. Duhh malunyaa orang Palembang kok baru perdana bikin pempek sendiri hahaha, selama ini sering beli di Restoran Sari Sanjaya Bintaro karena pempeknya emang mantab banget (terutama pempek kulitnya), tapi dua minggu yang lalu makan disana kok berasa harganya makin mahal yaa bisa tekor deh secara saya sering sakau pempek hehehe.

Original Recipe by Nova Rilandari (Dapur Bunda)

Dimasak ulang dengan modifikasi saya.

Bahan-bahan :

350 gr ikan gabus digiling
200 gr tepung tapioka
60 ml santan + 200 ml air dingin
1 btr telur ayam
5 siung bawang merah iris halus
1 sdm garam halus
1 sdt merica

Cara membuat :

- Campur ikan giling, santan, air dingin dengan menggunakan tangan hingga merata.
- Tambahkan garam, merica, telur, bawang merah iris.
- Masukkan tepung tapioka sedikit demi sedikit hingga adonan dapat dibentuk bulatan  
  (saya menggunakan dua buah sendok untuk membentuk).
- Kemudian goreng ke dalam minyak panas hingga kuning kecoklatan, lalu angkat dan tiriskan.
- Hidangkan hangat dengan cocolan cuko.

** Untuk membuat cuko, pertama didihkan air bersama gula merah yang disisir halus, kemudian haluskan cabai rawit dan bawang putih. Masukkan bumbu halus ke dalam air rebusan gula merah, tambahkan asam jawa, dan garam halus. Saya membuat cuko tanpa takaran hanya kira-kira saja, karena sudah sering bikin hehehe.

** Oh iyaa untuk pempek seperti yang ada di foto di bawah ini, walapun bentuknya agak kurang menarik tapi ternyata rasa dan teksturnya oke banget lohh, suami pun bilang enaaakkk, hanya kk Dinara aja yang comment "Bun, kok pempeknya jadi kayak cireng sih?" (-__-)



Tuesday, January 31, 2017

Missing my ordinary life


1 Februari 2017.

Sulit rasanya menginjakkan kaki ke tempat ini tanpa meneteskan air mata. Kepengen curhat tapi gak mau mengeluh ternyata susah. Ya Masjid Salman telah menjadi tempat saya mengadu kepadaNya selama beberapa bulan terakhir ini ketika datang ke kampus. Bagi mahasiswa Program Magister yang sudah extend waktu seperti saya, kampus tak lagi punya magnet yang kuat. Yahh gimana enggak, temen-temen sekelas juga udah pada jarang ke kampus, kalaupun ada sudah gak sama lagi tujuannya jadi agak susah janjian bareng. Belum lagi beberapa teman bahkan sudah lulus kuliah, bikin baper meningkat luar biasa.

Entahlah apa mungkin hanya saya, atau banyak mahasiswa tingkat akhir lainnya bernasib sama seperti saya. Kehilangan kepercayaan diri, terlalu banyak distraksi aktivitas rumah tangga, kepengen segera kembali ke kantor, tapi masalah utamanya gak tau mesti gimana menyelesaikan kewajiban tesis, bahkan setelah Seminar 1 pun masih bingung ini tesis akan dibawa kemana. Mungkin saya terlalu bodoh, mungkin juga gelar Master ini sama sekali belum pantas untuk saya. Yang jelas dua dari empat orang temen yang lulus sekarang juga seorang ibu rumah tangga. Mereka sungguh perempuan-perempuan tangguh!!

Tapi beneran deh, tesis ini sungguh bisa bikin emosi acak-acakan naik turun gak jelas. Minggu lalu rasanya udah mulai semangat lagi ke lapangan ambil data, ehh minggu ini semangat kacau lagi waktu dikasih tau temen kalo metode ambil sampel ke lapangan kemarin ternyata salah, ditambah masih nyesek body samping mobil keriting kena pager rumah mertua hingga 3 panel huhuhu. Gak kurang yang bikin mood minggu ini tambah kacau, my besties akhirnya udah dapet SK pindah tugas, yang artinya saat saya balik ke kantor lagi entar skuad lama udah bener-bener bubar. Ditambah mantan boss telepon kasih kabar kalo dia bulan depan wisuda, padahal kami mulai kuliah bareng walaupun beda kampus. *aaarrgghhhh

Saya tampaknya hampir sampai pada tahap males ketemu siapa-siapa karena males ditanyain kapan lulus, males juga ketemu teman-teman kampus yang udah pada lulus karena baperan, padahal kangen banget pengen ngobrol. Ahh memang kuliah paska sarjana ini waktunya begitu singkat, gak ada lagi haha hihi bubaran kelas, gak ada lagi nongkrong makan siang bareng, gak ada lagi indah-indahnya menjadi mahasiswa. Rasanya yang saya inginkan saat ini hanya kembali ke kantor, I really really miss my ordinary life. Entah seberapa pun menyebalkannya suasana kantor tapi hanya disana saya merasa menjadi diri sendiri. Bisa setiap hari kembali ke rumah ketemu anak-anak.

Tak pernah terbayangkan menjadi mahasiswa akan terbebani seperti ini, disaat tunjangan beasiswa sudah tidak ada, namun keperluan penelitian makin membengkak. Mungkin inilah balasan setimpal untuk saya yang sering menyepelekan banyak hal, terlalu menganggap remeh hal/orang lain padahal sebenarnya saya pun belum tentu mampu seperti mereka. Saya memang si Capricorn yang gak punya mental baja, terlalu gampang menyalahkan banyak hal lain atas kegagalan diri sendiri.

Entahlah. Saya mungkin tak cukup pintar, tapi saya hanya ingin bangkit! Ya Allah mohon berikanlah segala kemudahan agar segala kewajiban-kewajiban ini dapat diselesaikan, amiinnn.


Sunday, January 15, 2017

GGT = Galau Galau Tesis

16 Januari 2017

Ahhh waktu cepet banget bergulirnya, pengen rasanya punya kekuatan untuk memperlambat putaran waktu. Hari ini dapet lagi kabar temen keempat yang beberapa bulan yang lalu masih kuliah bareng udah lulus sidang tesis, perasaan pas dapet kabar tersebut : BAPER AKUT. Seneng sih seneng liat mereka sudah berhasil melewati step by step tahapan menuju gelar Master tapi to be honest saya kok rasanya ga relaa, pengen juga posting foto kelulusan di waktu yang sama huhuhu.

Arrgghh tapi semua ini kan salah saya sendiri, berbulan bulan menyia-nyiakan waktu tanpa ada hasil. Entah kenapa tesis ini menjadi momok yang begitu menakutkan bahkan melebihi rasa takut saya saat menghadapi persalinan, atau mungkin saya memang belum pantas mendapatkan gelar Master itu. Saya belum mampu mengatasi rasa tidak percaya diri ini, sya belum mampu meyakinkan diri bahwa sebenarnya saya mampu jika saja saya berusaha lebih giat. Saat teman-teman begadangan ga tidur berhari-hari input dan analisis data, saya masih saja berleha-leha dirumah main bersama anak-anak, beberes rumah, tanpa beban, malam hari pun tidur dengan nyenyak. Ahh penyesalan selalu datang terlambat!!

Beberapa hari yang lalu akhirnya beberapa teman senasib yang masih bergelut dengan tesis akhirnya dipanggil oleh Kaprodi, diajak diskusi mengenai hambatan-hambatan yang dihadapi dalam menyelesaikan tesis. Karena sesuai SK Tugas Belajar kami seharusnya sudah sudah menyelesaikan kuliah dan kembali ke kantor masing-masing. Dan dari situ kami diberi warning wajib menyelesaikan tesis dalam satu semester ini dan harus dapat mengikuti periode wisuda bulan JULI 2017, kalo engga maka kami harus membayar penuh selama satu semester berikutnya. Padahal semester ini saja kami sudah harus membayar sendiri untuk 0 SKS senilai setengah biaya SPP. Membayangkan kalo lewat lagi dari tenggat waktu jujur membuat saya shock bukan main, biaya SPP yang enggak sedikit belum lagi biaya pulang pergi Jakarta-Bandung, biaya hidup, biaya penelitian aarrghhhh!!

Tapi entahlah kenapa krisis percaya diri ini begitu akut melanda, saya hampir saja merasa engga sanggup melewati bagian-bagian tesis ini bahkan disaat saya belum mulai ke lapangan collect data. Ditambah lagi dapat kabar kalo Dosen Pembimbing merupakan tipe yang agak ribet sehingga saya sudah diwarning sama Kaprodi untuk prepare lebih baik sebelumnya karena jika kebiasaan mepet-mepet limit ini masih terbawa maka ditakutkan ke-perfectionist-an Dosen Pembimbing akan menjadi masalah baru buat saya. Belum lagi mengurus segala perijinan perpanjangan waktu Tugas Belajar dari kantor dan segala proseduralnya yang belum tentu berjalan mulus (walaupun saya banyak berharap diberi segala kemudahan).

Kadang terpikir apa mungkin hanya saya yang mengalami hal ini, bagaimana cara mengatasinya sepertinya hanya saya yang tahu jawabannya. Aaahh dimana fighter spirit yang dulu saya miliki, dimana motivasi kuat dan optimisme tinggi yang dulu saya punyai sewaktu menyelesaikan skripsi. Ingin rasanya masuk ke mesin waktu menuju masa depan dimana saya akan menertawakan hal-hal konyol yang saya rasakan sekarang. Tapi entah kenapa motivasi itu seperti maju mundur, dan terasa lebih banyak mundurnya. Jika saja boleh memilih, ingin rasanya meninggalkan sisa kewajiban ini dan kembali ke kantor * sigh *


Ya Allah hanya Engkau lah yang mampu membolak-balikkan hati, yang mempu memberi kemudahan atas segala hal yang sulit. Mohon berikan segala kemudahan dalam penyelesaian tesis ini, diberi segala kemudahan berfikir, rasa malas please pergi jauh dan jangan pernah kembali!! Mudah-mudahan beberapa bulan ke depan membawa banyak perubahan, amiiinnn…………….